Cerita Pendek
Aku
dan Tsunami
Senja
yang tenang turut serta menemani sepasang mata yang tengah menatap benda
persegi panjang di depannya. Perlahan matanya mulai terisi bulir-bulir air yang
siap meluncur. Begitu mataku berkedip, tes , akhirnya air mata suci itu turun
bagaikan hujan. Makin lama menangis makin pula hidungku tersumbat .
"Hiks...hiks.
Kok meninggal sih pemeran utamanya ?" tanyaku pada drama yang sedang
kulihat, tapi sudah pasti tak akan ada yang menjawab. Hingga saat tiba-tiba
pintu terbuka tanpa permisi , membuat Aku kelabakan menyusuti bekas tangisan
tadi. Ibuku ternyata yang masuk , ia masih berdiri di daun pintu dengan tatapan
bingung melihat putrinya menangis. Hingga Ibu berkata , "ckckck, hey Nak,
kau menangis lagi karena drama Korea kah ?" tanyanya sembari berdecak dan
menggelengkan kepala. Aku yang diberi pertanyaan hanya bisa nyengir kuda tanpa
menjawab pertanyaan Ibu , toh Ibu sudah biasa melihatku seperti ini. Hanya saja
Aku yang tak biasa dan masih suka kaget saat kepergok menangis gara-gara drama Korea
yang tak pernah absen kutonton.
"Ih
Ibu ini , kalo mau masuk ketuk pintu dulu Aku kan jadi malu kalau Ibu lihat Aku
yang sedang menangis karena drama ini , Bu." tuturku dengan nada agak
merujuk.
"Eiy
kau ini sudah Ibu bilang jangan terlalu sering nonton drama , kau ini jadi
lebay sekali. Malu apanya kau ini , orang biasanya kau ini malu-maluin. "
katanya sembari memukul sedang punggungku.
"Iya
Bu Aku mengerti. Ada apa Ibu kemari ?"
"Temani
Ibu ke pantai sekarang , Ibu akan menemui teman Ibu yang sudah lama tidak
bertemu. " kata ibu sembari tersenyum, entah apa yang sedang dipikirkannya
.
"Tidak
mau ah , Bu ! Malas , Aku tidak suka air pantai, dingin. Ibu sendiri saja ya.
" kataku sambil kembali berbaring. Baru juga beberapa detik menarik
selimut, sedetik kemudian selimut sudah melayang dari atas tubuhku. "cepat
bangun anak manis ! Kau ini memangnya kita ke sana mau berenang. Aneh , kau ini
tinggal dekat pantai tapi tak suka pantai. Sudah cepat bangun ! Ganti bajumu ,
ibu tunggu di depan! " katanya tanpa memberikan Aku kesempatan bicara.
Kalau sudah begini mau bagaimana lagi. Aku hanya harus pasrah mengikutinya
saja. Lagi pula kalau dipikir-pikir Aku ini butuh udara bebas karena Aku lebih
sering mendekam di dalam kamar. Hingga prasangka otak yang sudah terkontaminasi
drama Korea , Aku mulai berspekulasi apa jangan-jangan teman Ibu itu laki-laki
sampai ibu meminta Aku untuk menemaninya? Ibu tak ingin ada fitnah di dalam
hubungannya? Apa jangan-jangan seseorang uang akan ditemuinya itu seseorang
dari masa lalunya, karna jelas sekali Aku melihat Ibu tersenyum saat mengajakku
ke pantai. Oh , pikiran bodoh apa ini ? Hingga sebuah suara teriakan yang
menyadarkanku dari dunia prasangka. "Hey! Putriku yang kebanyakan
berpikir, cepatlah !". "iya, Bu! Segera sampai !" teriakku juga.
Aku
pun lekas cepat-cepat mengganti pakaian dan memakai kerudung instan. Setelah
selesai aku menghampiri Ibuku yang sudah menunggu di beranda rumah. Kami mulai
berjalan menyusuri menuju pantai. Aku yang memang cepat bosan mulai bersenandung
kecil menyanyikan lagu favoritku, "It's beautiful life..." baru saja
tiga kata kunyanyikan Ibu buru-buru menginterupsi, "sudah tak perlu
menyanyi , nanti kesandung baru tau rasa kau !" aku tak menghiraukan apa
yang Ibu minta. Aku masih tetap bernyanyi, hingga tiba-tiba, "aduh !"
pekikku ternyata Aku benar-benar tersandung oleh batu yang cukup besar. Memang
benar apa yang dikatakan oleh seorang Ibu itu selalu terjadi. Ah rasanya Aku
menyesal tak mengindahkan kemauannya. Baru saja aku ingin memuji Ibu yang punya
naluri kuat , pujian itu tak sampai saat aku mendengar Ibu mengejekku dan
tertawa karena melihatku benar-benar tersandung seperti yang diucapkannya. Aku
yang mendengar tawanya hanya mendelik, tetapi disatu sisi Aku juga senang
ternyata bisa membuat Ibuku sendiri tertawa karenaku.
***
Pantai
itu tempat yang banyak sekali wisatawan menyukainya. Tapi tidak denganku, baru
lima menit berdiam diri disini , Aku mulai merasa tidak nyaman dan merasa
bosan. Mengapa Aku tidak ikut berbincang-bincang dengan temannya Ibu? Itu
karena Aku hanya cukup menyapa saja lalu pergi. Aku ini orang yang tak terlalu
suka berinteraksi dengan orang baru. Benar dugaanku , ternyata teman yang Ibu
sebutkan tadi seorang laki-laki dan juga dari masa lalunya. Akan tetapi
khayalan ku tentang cinta lama bersemi kembali tak ada. Aku rupanya bisa
bernapas lega karena hal itu tak akan pernah terjadi. Teman pria ibu ternyata
datang bersama istri dan putranya.
Putranya
memang tampan , mungkin bisa mengalihkan pikiran para wanita yang melihatnya.
Tapi tidak denganku , jelas-jelas ada pria tampan dihadapanku , tapi tak cukup
mengalahkan dan mengalihkan pikiranku dari suasana pantai saat ini. Entah hanya
perasaanku saja atau memang benar nyatanya , pantai ini terasa seperti memendam
amarah yang entah ditujukan untuk siapa. Meski Aku jarang berkunjung ke pantai,
tapi insting ku masih berfungsi untuk seseorang yang sudah lama tinggal di
sekitar pantai. Aku bertanya-tanya apa yang akan terjadi ? Mengapa hatiku
berkata seolah-olah besok akan terjadi sesuatu yang tak terduga sama sekali.
Berbagai macam spekulasi mulai hinggap dalam otak ini. Tak tahan dengan
banyaknya pikiran ini. Akupun berteriak sambil berbalik , tetapi rasanya Aku
seperti menabrak sesuatu yang lebih tinggi dari tubuhku ini. Saat kudongakkan
kepalaku, refleks Aku menundukkan kepala kembali sambil berkata,
"Maaf!" kemudian dengan cepat Aku pergi menuju Ibuku, meminta agar
pulang sekarang saja. Baru beberapa langkah pergi dari orang yang kutabrak tadi
yang ternyata putranya teman Ibuku terdengar kekehan dari mulutnya. Ah , betapa
malunya diri ini. Seperti kata Ibu , aku memang benar suka membuat malu diri
sendiri.
Aku
menghampiri Ibu lalu menyentuh tangannya sambil memberi kode ingin pulang
sekarang. Ibu yang memang hendak pulang juga , mengerti apa yang kumaksud.
" Hasan , Erin, kami pamit pulang dulu ya ! Sudah hampir malam juga.
Lagipula aku harus bersiap-siap untuk besok." kata Ibuku kepada sepasang
suami istri didepannya, tapi kalimat terakhir yang Ibu katakan dan kalimat
balasan yang tante Erin katakan tak Aku mengerti. "ah benar juga. Kalau
begitu sampai jumpa di bandara . Hati-hati ya!" jawab tante Erin dengan
senyuman manisnya. "yasudah kalau begitu , Assalamualaikum " salam
Ibuku dan Aku kemudian pergi berlalu.
***
Rasanya
Aku ingin menanyakan tentang yang tadi tante Erin katakan pada Ibu. Sepanjang
jalan Aku ingin menanyakannya, tapi Aku urungkan. Aku akan menanyakannya begitu
sampai di rumah saja.
Akhirnya
kami sampai di rumah. “Assalamualaikum !”
salam yang tak kunjung dibalas karena kulihat Ayah
sedang tertawa menonton televisi di depannya. "Salam itu wajib dijawab
Ayah !" kata ibuku pada Ayah yang terlalu fokus dengan yang ditontonnya.
"waalaikumsalam, hehe maaf Bu , Ayah tak mendengarnya." kata ayah
menjawab salam yang terlambat. Baru saja duduk dan ingin menanyakan yang ingin
kutanyakan pada Ibu , tapi tak jadi lagi karena kalimat selanjutnya yang Ibu
katakan kepada Ayah sepertinya sudah menjelaskan apa saja pertanyaan yang dari
tadi ingin kudapatkan jawabannya.
"Yah
, besok kita jadi pergi ke Bandung. Perlengkapannya sudah siap ?" tanya
Ibu kepada Ayah.
"Oh
sudah selesai kok , Bu !" jawab Ayah.
Aku
yang hanya melongo tak percaya dengan yang mereka tanyakan lalu mengeluarkan
suara yang sudah terpendam dari tadi , "Ayah sama Ibu ke Bandung mau apa ?
Kok Aku tidak diberi tahu ?" tanyaku tak terima karena tak mengetahui
orangtuanya yang akan pergi. "lah iya , Ibu lupa memberi tahumu. Eh , tapi
tadi baru saja kami memberi tahukan?
Jadi berarti kamu sudah tahu." jawab Ibu seenteng-entengnya. Diriku
ini yang tak terima tak diajak pun kembali protes ,"kok Aku tidak diajak
,Yah,Bu ? Aku kan ingin ikut juga? Lagipula memang dalam rangka apa Ayah dan
ibu pergi mendadak ke Bandung?" kataku kesal sembari pergi ke dapur.
Setelah
berkata demikian Aku meminum banyak air minum. Badan ini terasa panas sekali ,
pasti karena tadi berkata cukup kesal. Lalu Aku duduk dan minum lagi. Hingga
kursi di depanku ditarik dan diduduki oleh Ayah dan Ibu.
"Kau
ini segitu saja sudah merajuk. Bagaimana kalau kuberitahu kau besok akan
kujodohkan?" kata Ayah dengan entengnya tapi dengan nada bercanda .
"Ayah
ini apa-apaan sih ? Tidak lucu itu!" jawabku cukup kaget walau tau itu
hanya gurauan, beruntung sekali aku hanya
hampir tersedak.
"Hey
, Nak. Kami besok ke Bandung hanya akan menghadiri seminar disana. Sudah itu
saja. Lagipula kau kalau ikut mau apa disana ? Duduk bosan pasti. Dan juga kau
ini harus fokus pada sekolah, sudah kelas tiga jangan membolos walau hanya satu
hari. Mengertikan? "
"Iya
Yah , mengerti. Nah kalau diberitahu seperti ini Aku bisa berpikir logis
lagi." jawabku nyengir saja. Memang kalau dipikir-pikir apa yang dikatakan
Ayah itu benar juga. "berarti tadi Ibu bertemu dengan teman Ibu tadi
berkaitan dengan seminar itu ya, Bu ? Kukira Ibu menemui teman Ibu mau apa gitu
."
"Ya
iyalah , memang apa yang kau pikirkan tentang pertemuan tadi ? Jangan-jangan
kau berpikir yang tidak - tidak ya ? Mengaku kau !" tanyanya dengan nada
interogasi.
"Ah
tidak kok Bu. Ibu ini ada-ada saja. Kalau begitu Aku ke kamar dulu saja ya. Mau
lanjut nonton drama saja." kataku sambil berlalu menuju kamar.
"Hey
kau ini belajar sana jangan nonton drama saja!"
Aku
tak menghiraukan apa yang Ibu minta. Pikiranku hanya tertuju untuk menonton
drama yang baru rilis lagi. Membuka folder drama baru yang akan kutonton di
ponsel , episode satu diawali dengan bencana tsunami dalam drama itu. Sejenak
kuhentikan drama itu. Mengapa pikiranku tiba-tiba menyalang saat-saat Aku di
pantai tadi ? Perasaanku gelisah dan tidak nyaman. Rasa-rasanya Aku seperti
akan dihantam air dalam waktu dekat. Firasat ku biasanya selalu benar , tapi
sekhawatir-khawatirnya , Aku tidak boleh berpikir hal yang buruk Aku harus
berpikir logis. Tak ada seorangpun yang tahu apa yang terjadi dikemudian hari,
hanya Tuhanlah yang tahu dan sudah menggaris takdir. Kembali ke kehidupan nyata
, sepertinya Aku sudah benar-benar tersugesti berada di alam khayalan. Apakah
hanya karena menonton drama Aku menjadi orang yang suka menerka-nerka kejadian
selanjutnya yang akan terjadi. Seperti halnya Aku , yang sering menebak apa
yang akan terjadi pada drama episode selanjutnya. Ah , sebaiknya kuenyahkan
sejenak pikiran tak berdasar ini. Aku lebih baik lanjut menonton drama tadi,
tapi kulewati saja adegan bencana tsunami tadi. Aku tak ingin kembali tenggelam
dalam dunia khayalan.
***
Pagi
buta sekali seseorang mengetuk pintu kamarku. Sungguh menyebalkan mengganggu
tidur yang nyenyak ini. Tak ingin terganggu , Aku malah menggelungkan diri di
dalam selimut tebal nan hangat ini. Hingga kudengar ketukan biasa yang berubah
menjadi gedoran keras serta teriakan yang mengancam kehidupanku hari ini.
"Putriku
yang malas untuk bangun ! Cepat buka pintunya atau kau tak kuberi uang jajan
untuk hari ini ! Kau tahukan hari ini kami akan pergi ke Bandung ?"
teriakan menggelora nan menggelegar keluar dari mulut Ibuku yang garang. Dengan
cepat Aku membuka pintu sambil mencoba mengumpulkan nyawa yang belum
benar-benar sadar.
"Mana
Bu uangnya ?" kataku sambil mengucek mata. Bukannya uang yang kuterima tapi
jitakan keras yang menghampiri dahi mulus dan lebar milikku. "aduh! Sakit
Bu!!" ringisan mulutku dan tangan yang mengusap-usap dahi berharga ini.
"Uang
saja yang kau pikirkan. Orangtuamu tak kau pikirkan? Dasar anak muda berpikir
hanya tentang uang. Cepat bantu Ibu memasukkan barang-barang ke taksi di depan!
Nanti baru kuberi kau uang."
"Iya
Bu. "
Aku
sempat terheran-heran mengapa barang bawaannya cukup banyak memangnya akan
tinggal berapa hari disana , kupikir hanya sehari. Tapi saat mengingat-ingat Ayah
dan Ibu akan pergi bersama temannya saat itu juga Aku tersadar dan baru
terpikirkan mereka akan sekalian jalan-jalan di Bandung. Ah , betapa bodohnya Aku
ini.
"Ayah
dan Ibu memangnya berapa hari di sana ?" tanyaku ingin memastikan.
"Empat
hari , memangnya kenapa ,Nak ?" jawab Ayah.
"Yah
kok lama sekali. Lalu Aku disini tinggal sendiri tanpa ada yang menemani oh
sedihnya hati ini." protesku.
"Lebay
sekali kau ini macam budak kecil saja. Sudah - sudah, ini uang untuk empat hari
kedepan. Ingat jangan boros , jangan lupa belajar dan ibadah , dan satu lagi
jangan kebanyakan nonton drama Koreamu itu. Ayah dan Ibu pamit , jaga diri baik
baik ya !" nasihat panjang lebar Ayah kutelan baik-baik dan menyalami
kedua orangtuaku.
"Iya
Yah, mengerti dan siap laksanakan. Ayah dan Ibu juga hati-hati , baik-baik
disana. Dan jangan lupa belikan aku oleh-oleh yang banyak. "
"Iya
- iya. Yasudah kami pamit dulu Assalamualaikum! "
"Waalaikumsalam.
"
Setelah
kepergian Ayah dan Ibu menuju bandara , Aku masuk ke dalam rumah . Tapi baru
saja di ambang pintu, leherku terasa meremang dan bergidig dingin. Ada apa ini
? Mengapa suasananya horor sekali. Kepalaku menengok ke kanan dan kiri, melihat
situasi dan tersadar jika saat ini masih pagi. Pantas saja hawanya terasa
dingin sekali. Segera saja Aku masuk rumah dan mengunci pintunya. Masuk ke
kamar kembali berpeluang dalam selimut, lalu memainkan ponsel hingga waktu
subuh menghampiri. Walaupun asik bermain ponsel, jika memang sudah waktunya
beribadah sudah tinggalkan saja aktivitas dunia.
Beribadah
sudah mandipun sudah. Aku bersiap diri berangkat ke sekolah yang sudah
menyediakan banyak tugas yang membuat otak panas. Tetapi sebelum berangkat Aku
mempunyai kebiasaan untuk mengecek cuaca hari ini. Walau tak menutup
kemungkinan jika cuaca bisa berubah dalam sekejap saja. Aneh yang kulihat,
padahal cuaca normal saja , tetapi aku berpikiran mengapa yang kulihat dan yang
kurasakan itu terasa beda ? Tak ingin terlambat datang sekolah karena lama
bergelut dalam pikiran, Aku akhiri pikiran dan rasa takut nyaman ini dan
beranjak dengan segera ke sekolah.
***
Kupikir
walau Ayah dan Ibu tidak ada dirumah, Aku bisa menghabiskan waktu dengan
menonton drama , tetapi rasanya hampa sekali. Disini Aku seperti merasakan
bagaimana rasanya jika Aku hidup tanpa orangtua. Hatiku terenyuh membayangkan
mereka yang tak mendapat kasih sayang dari orangtua , Aku patut bersyukur
walaupun mereka orangtuaku yang cerewet tetapi sangat menyayangiku selalu.
Aku
mencoba menyibukkan diri dengan berbagai hal , tapi nyatanya tetap saja
membosankan hidup sendiri itu. Aku berpikir untuk lebih baik menonton drama
lagi saja , tapi pada akhirnya disinilah Aku berakhir , terduduk santai diriku
ini di beranda rumah. Menikmati angin sepoi - sepoi yang entah mengapa membuat
hatiku gundah. Perlahan mataku terpejam , mencoba terlena. Baru sekejap saja ,
tiba tiba kudengar riak burung laut yang beterbangan menjauhi pantai.
"
Apa yang terjadi? " tanyaku heran entah pada siapa.
Mencoba
untuk tak menghiraukan burung - burung itu. Tapi pikiranku malah teringat pada
orang tua ku yang tadi pagi baru saja berangkat menuju Bandung untuk menghadiri
seminar. Sedetik kemudian Aku mencoba menenangkan diri, tanganku gemetar lalu
kugenggam masih saja gemetar. Bukan itu bukan karena getaran ketakutan saja,
tetapi itu getaran kecil yang berubah menjadi goncangan besar yang ditimbulkan
bumi. Seketika tubuhku bangkit menegang. Aku hanya sendiri disini, inginnya Aku
ikut dengan ayah dan ibu, tapi apa daya Aku anak SMA yang sedang sibuk -
sibuknya dengan tugas dan ujian.
"
Hey , Nak ! Mengapa kau diam saja ? Cepat lari ! " seru seseorang berlari
melintasi rumahku menuju tempat yang jauh dari pantai.
Kesadaranku
belum terkumpul penuh. Disatu sisi Aku ingin segera berlari, tapi mengapa kaki
ini rasanya lemah sekali. Sekalipun Aku berlari sekuat tenaga, nyatanya air
laut yg surut dengan tenang , dengan disertai gempa yang tak henti
dimuntahkanlah air yang tak Aku ketahui berapa banyaknya bertumpah ruah menuju
daratan.
Pikiranku
menyalang pada saat-saat kemarin dan tadi pagi tentang tsunami. Benar firasat
ku ini , sepertinya laut memang sedang menahan amarahnya pada manusia. Ketika alam marah
tandanya Allah sedang marah kepada umatnya.
Sekalipun Aku tak bersahabat dengan air laut, tapi Aku berusaha menghargai
bahwa air laut pun ciptaan Allah. Seharusnya kita ini selalu bersyukur atas apa
yang diberikannya bukan malah memberikan luka dan masalah pada mereka yang tak
bisa berbicara. Mungkin Allah
murka dengan apa yang diperbuat manusia , manusia mulai melewati batasannya .
Hingga Allah menyalurkan amarahnya melalui tsunami .
Dari
semua bencana alam , yang paling kutakuti adalah tsunami. Pikirku tsunami itu
selain menerpa apa yang ada disekitarnya dengan air juga menimbulkan goncangan
dahsyat yang membuat siapapun tak bisa bertahan maupun berkutik. Aku tak
mungkin bisa bersahabat dengan
tsunami, disaat bahkan tsunami pun tak ingin bersahabat denganku. Aku hanya
berpikir semoga Allah bisa menolongku dari bencana yang Ia kehendaki. Tak
pernah kubayangkan Aku berada dalam situasi yang seperti ini. Sesak , gelap ,
dan sakit itu yang kurasa saat ini. Aku seperti berada di alam mimpi. Kilasan -
kilasan kejadian yang terlalu mendadak terputar dalam imajinasi otak ini bagai
kaset rusak. Mataku masih terpejam, tapi Aku bisa merasakan bagaimana tubuhku
yang lunglai terseret ombak.
Hanya
satu yang ingin aku katakan, " Ya Allah , Aku hanya ingin tubuhku masih
bisa dihadapkan dengan keluargaku. " cukup satu harapan , sudah itu saja.
Baru
saja tadi pagi aku masih bisa berbincang-bincang dengan orangtuaku. Aku tak
bisa membayangkan seandainya mereka yang baru saja tiba disana mendapat berita
seperti ini. Aku tak sanggup melihat bagaimana wajah sedih mereka. Aku hanya
ingin melihat wajah mereka yang bahagia dan tertawa. Baru saja juga aku memikirkan
bagaimana hidup tanpa orangtua, tapi sekarang berbalik bagaimana kehidupan yang
akan dijalani Ayah dan Ibu seandainya Allah
memilihku untuk menghadap lebih dulu kepada-Nya?
Sekali lagi Aku hanya meminta dan merapalkan doa agar Allah berbaik hati tetap
memberikanku kesempatan untuk tetap hidup dan menjalani hidup yang lebih baik
lagi.
***
Kupikir
diriku sudah pergi ke dunia fana , melanglang buana entah kemana. Hingga
akhirnya kudengar suara alat komunikasi yang tak tahu apa itu namanya. Kemudian
kurasa ada tangan yang sepertinya memeriksa denyut nadiku untuk menyatakan
apakah Aku masih hidup atau tidak. " Di sebelah sini ! Cepat bawa tandu ke
sebelah sini ! " teriak pria yang kuyakini sekarang ada disampingku.
Syukurlah, Allah masih memberikanku kesempatan untuk menghirup udara di bumi
ini.Kemudian pria yang lain berbicara pada alat komunikasi yang sudah kubilang
Aku tak tahu apa namanya tapi Aku tahu bentuknya. " Lapor ! Satu warga
sipil telah ditemukan dan dalam keadaan masih hidup. " sepertinya yang dia
bicarakan itu Aku.
Kuusahakan
membuka mataku , rasanya seperti ada tumpukan pasir. Perlahan tapi pasti,
akhirnya mataku bisa terbuka melihat dunia yang biasa kupandang. Dengan lemah
dan mulut yang sudah tertutup alat bantu pernapasan Aku berkata hanya untuk
memastikan, " Di mana Aku ? " tanyaku pada relawan disampingku.
" Anda berada di posko penyelamatan korban tsunami, kami akan mengobati
anda. Jadi sebaiknya anda istirahat saja dulu. " begitu katanya. Aku
menurut saja , untuk apa berontak toh ini untuk keselamatanku juga. Kata
'Alhamdulillah' terucap oleh mulutku sebelum akhirnya mataku tertutup kembali.
Sebelum
mataku kembali terpejam , aku masih memikirkan bagaimana orangtuaku sekarang.
Apakah mereka sudah mendengar berita ini. Aku harap iya , walaupun mereka ada
urusan di sana Aku hanya ingin orangtuaku berada disampingku dan merawatku.
Sungguh Aku ingin bersujud syukur kepada Allah. Aku sangat merindukan mereka ,
mereka hanya satu-satunya yang ku punya. Semoga mereka pun bahagia dan
bersyukur melihat Putrinya yang suka menonton drama ini masih hidup.
Aku
tak tahu sudah berapa lama mata ini terpejam. Saat kubuka mata, kosong , Aku
masih belum ada yang menemani . Kulihat korban
lain yang selamat sedang
berpelukan dengan keluarga mereka. Aku harus berpikir positif saja barangkali
Ayah dan Ibu masih dalam perjalanan kemari. Tapi mengapa hatiku sedih sekali.
Aku hanya sendiri tak ada yang menemani . Kupalingkan wajahku menuju jendela di
sampingku. Mataku menyalang pada keadaan diluar yang sudah tak sama seoerti
semula. Aku mencoba mengingat kembali apa yang terjadi padaku hari ini. Rasanya
cepat sekali ,banyak sekali kejadian yang kualami hari ini. Mengingat bagaimana
ombak menhantam dan menteretku dengan kerasnya. Beginilah kehidupan , kita
harus memiliki timbal balik yang mutualisme dengan bumi yang kita tumpangi ini.
Melihat bagaimana sedihnya hati ini , hingga saat ini tetap saja belum ada
orangtua yang menemani. Mungkin Allah sedang menguji kesabaranku, sejauh apa
Aku bisa menunggu. Memikirkan keadaanku saat ini membuat bulir-bulir bergerumul
mengalangi pandanganku. Akhirnya tetesan demi tetesan mengalir dari mataku ini.
Ah , Aku baru ingat kalau Aku ini anak yang cengeng. Aku anak yang terlalu
emosional melihat dan menghadapi sesuatu. Tiba-tiba Aku membayangkan bagaimana
jika Ibu melihatku sedang menangis seperti ini , pasti Ibu akan memukul
punggungku. Memikirkan hal itu membuatku terasa cukup terhibur. Tak perlu
berlarut dalam kesedihan , mengingat kejadian yang kecil itu saja rasanya sangat
berharga bagiku. Tiba-tiba Aku merasakan tanganku digenggam dan pundakku
dipukul secara bersamaan. Saat itu pula Aku refleks menengok dan mengaduh.
"Aduh
, sakit Bu !" ucapku sambil menahan agar tak menangis.
"Eiyy
kau ini begitu saja sakit. " jawab ibu sama saja terlihat seperti habis
menangis dan berusaha menahan tangisnya agar tidak pecah.
"Mengapa
Ayah dan Ibu lama sekali ? Aku sudah menunggu dari tadi..." tangisku pecah
, Aku benar-benar tak bisa menahan air mata ini.
"Maaf
nak , maaf kami telat." jawab ibuku yang juga sudah tak kuasa menahan
tangisnya , akhirnya luruh juga air matanya.
Aku
hanya megangguk. Kulihat Ayah pun akhirnya menangis. Ini sepertinya pertama
kali aku melihat Ayah menangis. Seharusnya momen seperti ini diabadikan. Kalau
Ibu aku sudah pernah melihatnya menangis karena sinetron , pantas saja anaknya
mudah menangis karena drama , rupanya ini menurun dari Ibunya. Ah , sayang
sekali ponselku entah kemana.
"
Syukurlah, Nak ! Allah masih memberikan kita kenikmatan yang tiada tara."
ucap ayahku disamping kanan. Terlihat gurat wajah terharu dan bahagia dari
pancaran mata mereka. Ah , membuat kristal bening di mataku ini semakin banyak
meluncur bebas, diikuti senyuman tipis namun membahagiakan yang aku berikan.
***
Sinar
matahari yang menerobos kaca jendela membuat mataku mau tak mau terbuka
sempurna. Silau sekali hingga membuat mataku sakit dan kepalaku pusing. Aku
menggelengkan kepala agar pusingnya cepat hilang , entah teori dari mana ini.
Rasa pusing ini tak semakin kemarin , dokter telah memberikan obat kepadaku.
Badanku masih sakit sekali digerakkan . Ternyata Aku baru sadar kalau banyak
sekali luka dalam tubuhku ini. Kulihat Ayah dan Ibu masih tertidur disampingku
dalam posisi duduk. Memikirkan itu pasti tidak nyaman sekali tidur dengan keadaan
terduduk. Tanganku pegal sekali , Aku berniat ngin meregangkan tubuh tapi malah
berakhir membangunkan Ayah dan Ibu. Mata mereka seperti panda , pasti mereka
tidak tidur semalaman untuk selalu terjaga menjagaku.
"Bagaimana
keadaanmu , Nak ? Sudah mendingan? " tanya Ibu sambil menguap.
"Iya
Bu alhamdulillah , Aku sudah merasa lebih baik."
"Ayah
ingin ke kamar mandi dulu ya." kata Ayahku sambil berlalu. Aku dan Ibu
hanya mengangguk mengiyakan.
Ibu
memijat tanganku, karena Aku bilang terasa pegal sekali. Rasanya enak dan
nyaman sekali mendapat pijatan dari seorang Ibu. Setelah merasa lebih baik Aku
mulai merasa bosan lagi jika berdiam diri. Terlintas ide untuk meminjam ponsel
Ibu.
"Bu
, pinjam ponselnya ya , Aku ingin nonton drama." pintaku.
"Kau
ini sedang sakit pun masih saja teringat drama. Sudah pikirkan saja
kesehatan. Istirahat dengan baik dan
tenang saja. Sudah tidur saja lagi sana !" jawabnya dengan nada sedikit
sewot.
"Tapi
Bu , Aku sudah sering tertidur dari kemarin , Aku bosan bu , hidup tanpa nonton
drama itu terasa hampa. Boleh ya Bu ! Kalau tidak Aku ingin merajuk saja."
ancamku.
"Merajuk
kok bilang dulu. Nih jangan terlalu lama nonton dramanya , nanti kau pusing
lagi." jawab Ibu sembari memberikan ponselnya.
Dengan
cepat Aku mengambil ponsel Ibu dan tak lupa berterima kasih. Ibuku melarang
tapi masih saja memberikan. Pertama kuunduh terlebih dahulu episode terbaru
dari drama Korea itu. Setelah selesai baru saja lima menit kumulai menonton,
Ibu sudah bersuara saja .
"Kok
Ayahmu ke kamar mandi lama sekali. Memangnya kamar mandi tempat yang nyaman
hingga Ayahmu belum kembali juga." gerutu Ibu yang sepertinya bosan tak
ada teman bicara.
"Mungkin
Ayah sedang melihat para suster cantik , Bu !"
Mulutku
yang berpandangan berlebihan ini memang tak bisa dikontrol. Alhasil sebuah
pukulan datang menyerang. Tak hanya pukulan , tetapi mulut Ibu yang banyak
sekali mengoceh memarahi karena Aku bicara sembarangan.
"Itu
Ayah !" tunjukku ke arah pintu, tetapi aku cukup kaget melihat siapa yang
ada di belakangnya.
"Loh
, Hasan , Erin, nak Ismail , sedang apa kalian disini ?" tanya Ibu seraya
bangkit dan menghampiri mereka.
"Ya
mau menjenguk anak kita lah Bu , masa mau kondangan." jawab Ayah jenaka.
"Iya
, kami mau menjenguk putrimu. Maaf baru datang sekarang, kami baru mendapatkan
tiket keberangkatan tadi malam." jawab Om Hasan.
"Oh
tidak apa-apa, terima kasih sudah mau menjenguk Putri kami. Maaf jadi
merepotkan , sampai kalian jauh-jauh dari Bandung terbang kesini." jawab
Ibu merasa sungkan.
"Ah
, tidak apa-apa. Ini bukan hanya kami saja yang khawatir tetapi Ismail yang
sangat panik dan khawatir memikirkan calon jodohnya yang terluka." jawab
Om Hasan sekali lagi yang membuat raut wajahku dan wajah Kak Ismail kaget
setengah mati.
"Eing
, apa maksudnya ini ?" tanyaku bingung sekali tak mengerti apa yang Om
Hasan katakan.
***
Aku
saat ini masih saja menonton drama Korea. Mengenai pembicaraan tadi Aku lupakan
saja dulu , Aku tak ingin mendengar lebih lanjut. Jodoh apa katanya. Aku masih
lebih suka mengkhayal aktor dalam drama yang kutonton menjadi sosok kriteria
pria idamanku.
Ayah
dan Ibu sedang menemani keluarga temannya di kantin. Mungkin mereka merasa
lapar karena dari bandara langsung kemari. Begitu pula Ayah dan Ibu mereka
belum makan sejak semalam. Aku sendiri tentu saja Aku sudah makan , karena
pihak rumah sakit yang memberikan. Seperti dugaan banyak orang yang pernah
menjadi pasien , makanan rumah sakit itu tidak enak, tidak ada rasanya , aku
seperti makan air minum saja yaitu terasa hambar. Selagi mereka makan di kantin
yang kupikir kan untuk menghilangkan rasa stres dan bosan ya hanya dengan drama
Korea.
Drama
Korea itu seperti moodbooster untukku, Aku menyukai semua genre drama kecuali
genre family. Mengapa demikian? Karena drama keluarga memiliki banyak episode
dan aku tak sanggup karena terlalu lama dan juga menguras kuota. Drama yang
kutonton rata-rata hanya berjumlah 16 episode. Saat ini adegan dalam drama
yaitu suasana sedih , membuat Aku kembali menangis lagi. Untung saja dalam
ruang rawat ini hanya ada Aku saja sekarang, jadi Aku bisa menangis tanpa ada
yang melihat.
Aku
masih saja terlarut dalam kesedihan , menangis terus menerus, sampai Aku heran
mengapa episode kali ini banyak menguras air mata. Sepertinya drama ini turut
berduka atas apa yang kualami, sepertinya. Saat sedang asyiknya menangis ,
tiba-tiba pintu terbuka dan menampakkan sosok putra Om Hasan dan Tante Erin.
Aku dengan cepat mengelap bekas tangisan di wajahku. Mengapa setiap kali Aku
sedang menangis karena drama yang kutonton ada saja yang mengganggu ataupun
memergoki yang sedang menangis ini.
"Kamu
baik-baik saja ? Mengapa menangis ?" tanyanya yang terlihat khawatir.
"Aku
baik-baik saja , tidak perlu khawatir!" jawabku yang masih mengelap bekas
tangisan dan juga ingus yang muncul. Bisa bayangkan betapa malunya Aku saat
ini.
"Siapa
yang khawatir? Aku hanya bertanya. " jawabnya lagi sembari tersenyum geli.
"Ish
menyebalkan! " aku jawab dengan volume suara kecil.
"Tenanglah
, lagi pula sepertinya Aku tahu mengapa kamu menangis. Tuh , pasti karena drama
Korea yang sedang kamu tonton itu." katanya sambil menujuk ponsel yang
sedang kupegang dengan dagunya.
Aku
merutuki diri sendiri , mengapa dramanya tidak Aku pause dulu. Tapi tidak apa
juga , karena Aku tak perlu repot untuk menjawabnya.
Setelah
percakapan singkat itu , ia memberikanku buah-buahan. Kami sama-sama makan dalam diam.
Sepertinya ia suka keheningan. Akupun sebenarnya bisa dikategorikan seseorang
yang cukup suka keheningan. Tapi itu hanya pada saat tertentu saja.
Saat
ini Aku berada dalam situasi yang serba salah. Diam dan juga keheningan
membuatku tidak
nyaman. Jika mengobrol tetapi Aku pasti akan merasa canggung dan malu. Karena
aku sebenarnya jarang bicara pada seorang lelaki. Lelaki yang hanya dan sering
aku ajak bicara yaitu hanya Ayah. Bahkan di sekolah pun Aku tidak punya terlalu
banyak teman pria. Dan yang Aku ajak bicara hanya anak lelaki yang sama
sepertiku yaitu suka menonton drama Korea.
Ayah
, Ibu , Om Hasan , dan Tante Erin sudah kembali dari luar. Mereka kembali berbincang
rentang apa yang tak kuketahui ataupun Aku mengerti. Dan Kak Ismail , dia hanya
duduk diam sambil menutup mata ,sepertinya dia mengantuk.
***
Dokter
dan suster datang untuk memeriksa kembali keadaanku dan pasien yang lainnya.
Ketika selesai memeriksaku dokter mengatakan Aku mengalami peningkatan dari
kondisiku. Sepertinya dalam waktu dekat Aku sudah boleh dipulangkan. Akan
tetapi Aku berpikir dimana Aku dan orangtuaku akan tinggal. Rumah kami sudah
rata dengan tanah , akibat hantaman dari air laut. Disitu Aku sempat berpikir
bagaimana bisa tsunami bisa meratakan rumah dengan tanah tetapi tak bisa
menghancurkan tubuh manusia. Kita pikirkan betapa kuasa Allah yang bertindak
atas segala sesuatu yang terjadi dimuka bumi.
"Yah
, kalau Aku sudah boleh dipulangkan, kita akan tinggal dimana ? Rumah kita
sudah hancur , lalu bagaimana kita akan menyambung kehidupan kita ?"
tanyaku pada Ayah yang sedang duduk bersilang dibawah.
"Iya
ya ? Ayah juga baru memikirkan dimana kita akan tinggal jika rumah saja saat
ini kita tidak punya. Sebaiknya Ayah segera mencari penginapan untuk tempat
tinggal kita sementara. " kata Ayah memberi solusi.
Saat
Ayah hendak berdiri , Om Hasan menarik kembali tangan Ayahku kemudian ia
menawarkan untuk membantu mencari penginapan. Lagipula mereka pun belum
mendapat penginapan jadi biar sekalian. Aku dan orangtuaku sekali lagi hanya
bisa berterima kasih.
***
Aku
sudah boleh dipulangkan, dan kami untuk sementara waktu tinggal di penginapan
yang sudah disiapkan keluarga Om Hasan. Selama diperjalanan Aku bercerita
kepada Ayah tentang firasatku sebelum terjadinya tsunami. Orang-orang yang
mendengar apa yang Aku ceritakan cukup kaget , Aku bertanya-tanya mengapa Allah
memberikan bencana kepada kita ? Dan Ayah menjawab bahwa sesungguhnya sekalipun
Allah memberikan kita kesusahan ataupun bencana kita hanya harus menganggapnya
sebagai rezeki pengingat agar kita senantiasa selalu ingat kepada Allah. Kita
harus selalu ingat apa yang menjadi batasan , apa yang harus kita perbuat demi
menambah pahala dan mendapat kemudahan. Sesungguhnya Allah menguji kita untuk
menilai sejauh apa kita dapat menahan dan mengatasi dari kesulitan yang Allah
berikan.
Sampai
topik pembicaraan berubah haluan menjadi tentang kekeluargaan. Ternyata
pertemanan antara Ayah Ibu dan Om Hasan Tante Erin sudah berlangsung sangat
lama sekali. Mereka bertemu sejak masa putih abu. Mereka sendiri bersyukur
walaupun berada di tempat yang berjauhan, tetapi komunikasi masih tetap
terjalin dengan baik. Aku tidak tahu jika Ayah dan Ibu memiliki kisah yang
cukup menarik dalam pertemanannya. Pokoknya setelah ini Aku ingin menanyakan
dengan detail kisah mereka semasa dulu. Sepertinya kisah mereka lebih menarik
daripada drama Korea yang biasa kutonton.
Tetapi
ada satu kisah yang Aku tak menyangka sama sekali. Mereka memiliki keinginan
tetapi lebih tepatnya perjanjian, apabila mereka memiliki anak yang berbeda
jenis kelamin dalam artian satu pasangan laki-laki dan satu pasangan perempuan,
mereka ingin menikahkan anak mereka lalu kemudian mereka menjadi besan. Disini
Aku menyadari pembicaraan mengenai jodoh saat mereka membicarakannya di rumah
sakit tempo hari.
Aku
berada dalam situasi yang membingungkan. Para orangtua menanyakan kesediaan
kami menerima perjodohan itu. Mereka bilang tidak akan dilakukan dalam waktu
dekat. Tetapi meskipun begitu mengapa hal ini membuatku sangat pusing tujuh
keliling. Mengapa para orang tua itu
memiliki perjanjian bodoh super menyebalkan seperti ini ? Mengapa
kisah kehidupanku seperi drama yang kutonton? Mungkin aku harus belajar dari
bencana tsunami yang kualami. Aku tak bisa menolak menghindar dari hantaman air
yang diberikan tsunami. Begitu pula aku tak bisa menolak apa yang sudah
diberikan , masalah kedepannya hanya Tuhanlah yang tahu apa yang akan terjadi
pada hidupku ini.
Bagus dwi menarik, lanjutkan๐๐
BalasHapusSiap
HapusBagus wi๐
BalasHapusTerima kasih
HapusAulia.. cerpennya bagus..dari segi bahasanya kerenn puitis, udah kayak penulis aja ๐
BalasHapusAamiin, terima kasih elva. Aku masih harus terus berlatih menulis jikalau ingin jadi penulis๐
HapusKomentar ini telah dihapus oleh administrator blog.
HapusBagus sist lanjutkan ๐
BalasHapusSiap sist
HapusBagus sist lanjutkan ๐
BalasHapusKeren hamasah terus dwi๐
BalasHapusSelalu , terima kasih ukhti dian
HapusGood job ka, faighting ๐
BalasHapusThx , fighting juga kakak
HapusTerbaik lah nak ๐
BalasHapusBerkat kaulah mak๐
HapusOpening ceritanya kayak curhat kak๐๐
BalasHapusHaha , Iyakah? ๐
HapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusPanjang bangetttttt, tapi kereeeen (y)
BalasHapusiya ya kepanjangan wkwk,btw terima kasih
HapusKereennn wi๐
BalasHapusBagus ceritanya, lanjutkan sist
BalasHapusPanjang banget heheh tapi sukaa๐
BalasHapusBagus ceritanya ๐๐ปlanjutkan
BalasHapus